Reorientasi Tubuh, Waktu, dan Takdir dalam karya Homer
Mendalami Homer
Gorky Hartanto
6/1/20266 min read


Odyssey karya Homer menurut saya sangat melambangkan bagaimana kekuasaan, waktu, dan takdir dikelola oleh para tokoh di dalam novel tersebut, namun tidak bisa saya pungkiri ada kalanya kita juga membaca karya Iliad karya Homer juga untuk menekankan secita secara keseluruhan dan lebih mendalam secara filosofi, maka didalam artikel ini saya akan membahas tentang kedua buku tersebut walau lebih banyak membahas tentang homes sesuai dengan apa yang kalian baca di judul artikel ini. Sebagai pembaca di dalam buku buku tersebut kita dapat melihat cara pandang baru untuk memahami dikotomi klasik antara kekuatan fisik (bie) yang menjadi karakteristik utama pahlawan Iliadic seperti Achilles, dan kecerdikan penuh tipu daya (mētis) yang melekat erat pada sosok Odysseus dalam perjalanannya menuju tanah airnya (nostos). Melalui pendekatan yang coba saya sampaikan, tulisan ini membedah bagaimana perubahan orientasi ruang dan waktu dari medan perang menuju ruang yang membentuk karakteristiknya tersendiri dari masing-masing tokoh dengan fokus utama pada pemaknaan mendalam terhadap buku Odyssey.


Dunia dalam Iliad didefinisikan sebagai sebuah ruang yang sangat ketat di mana setiap pejuang harus terus-menerus berjuang untuk berada di barisan paling depan (metà prōtoisi), sebuah konsep yang ditegaskan melalui ucapan Sarpedon dan Hector. Pergerakan dalam novel tersebut sangat dipengaruhi oleh situasi yang sangat megah dari pendekarnya, di mana keberhasilan seorang prajurit diukur dari kemampuannya sebagai pejuang garis depan (promachos) untuk mengejar, menjangkau, dan menumbangkan musuhnya dalam sebuah rangkaian konfrontasi yang megah. Sosok Achilles berdiri sebagai paradigma utama dari kemehahan perjalanan yang luar biasa ini, di mana pergerakannya yang legendaris digambarkan menyerupai api yang digerakkan oleh angin ketika ia kembali ke medan perang, terutama dalam momen kejayaan pribadinya (aristeia). kita dapat membaca bahwa kosakata dalam momen heroik dapat mendominasi struktur bahasa di bagian novel yang menciptakan ketegangan ruang yang luar biasa di mana tubuh-tubuh digambarkan dengan tempo cepat dan menegangkan dengan fokus konstan pada kekuatan mekanis lutut dan kaki pejuang. Pengejaran ikonik Achilles terhadap Hector juga menjadi puncak yang tragis di mana waktu naratif seolah-olah disatukan dalam satu garis lurus pengejaran yang tidak pernah selesai, membentuk sebuah metafora yang menunjukkan bahwa dalam ruang Iliad, berlari dari takdir adalah bentuk kepatuhan mutlak terhadap takdir kematian (moira) yang telah membelenggu para pejuang.


Tindakan ini dalam Iliad ternyata tidak hanya berfungsi sebagai strategi pertempuran individual di atas medan perang, melainkan juga sebagai alat naratologi penting yang digunakan oleh penyair untuk menyelaraskan berbagai alur waktu yang terfragmentasi. Sebagaimana diamati secara cermat oleh Garcia dalam studi strukturalnya yang saya temukan, gerakan tokoh yang berlari memungkinkan satu untaian narasi yang tertinggal untuk menyusul untaian narasi utama lainnya, menciptakan jalinan cerita yang sinkron. Fenomena ini terlihat jelas ketika Hector berada di gerbang Scaean, di mana linimasa pergerakan Paris yang sempat tertinggal di kamar tidurnya dan pergerakan Andromache yang dilingkupi kecemasan ditarik menuju satu titik temu temporal yang sama melalui langkah kaki mereka yang terasa dapat kita bayangkan. salah satu studi yang saya temukan yang dituliskan Alex C. Purves membahas hal tersebut dan menekankan bahwa dengan memperlambat atau mempercepat langkah kaki karakternya, Homer mampu merekayasa momen yang terkoordinasi dengan sangat sempurna, menjadikan tubuh pejuang sebagai poros utama dari bagian temporal dari novel tersebut. Namun, pengejaran jenis ini pada akhirnya bersifat membatasi imaji kita dan terlihat tragis, karena pejuang tercepat sekalipun dapat dikecoh oleh manipulasi dari takdir itu sendiri, seperti ketika dewa Apollo menyamar sebagai Agenor untuk memikat Achilles dalam pengejaran sia-sia yang membuatnya selalu berada sedikit di belakang dari objek yang dikejarnya (tutthon hupekprotheonta), cerita novel seperti ini sering menegaskan bahwa kecepatan tempo cerita dari cerita pengejaran sering kali berakhir pada kebuntuan konklusi cerita yang dapat kita tebak saat kita membacanya.


Seni melewati yang lambat terhadap yang cepat ini mendapatkan legitimasi teologis dan mitologisnya yang kuat melalui nyanyian kedua dari penyair istana Demodocus, yang mengisahkan skandal perselingkuhan antara Ares dan Aphrodite di kediaman para dewa. Dalam kisah alegoris tersebut, Ares digambarkan sebagai dewa perang yang sangat cepat (thoos), kuat, dan perkasa secara fisik, sementara Hephaestus adalah dewa pandai besi yang pincang, lambat, dan memiliki cacat bawaan pada kedua kakinya. Namun, melalui penggunaan jaring rahasia yang dirancang dengan kecerdikan batin yang luar biasa (mētis), Hephaestus yang lambat tersebut berhasil menjebak dan mengunci Ares yang cepat di atas tempat tidur perzinahannya hingga menjadi tontonan para dewa lain. saya dapat melihat bahwa moral dari cerita mitologis ini—yang dinyatakan secara eksplisit dalam teks bahwa tindakan buruk tidak akan mendatangkan kebajikan dan sosok yang lambat pada akhirnya akan menyusul yang cepat (kikhanei toi bradus ōkun)—yang berfungsi sebagai sebuah refleksi internal yang sempurna bagi perjalanan hidup Odysseus sendiri. Seperti sosok Hephaestus, Odysseus memanfaatkan beban pikiran yang kuat dan perencanaan strategi yang matang untuk melumpuhkan lawan-lawannya yang jauh lebih muda, lebih cepat, dan lebih kuat secara fisik, membuktikan bahwa dalam lanskap filosofis Odyssey, kecepatan fisik murni tanpa disertai kecerdikan adalah sebuah kesia- siaan yang rentan terhadap kehancuran dalam hidup kita.


rencana yang matang dapat melampaui kekuatan besar ini terjadi dalam Buku 9, ketika Odysseus dan para pengikutnya terperangkap dan berusaha melarikan diri dari gua raksasa Cyclops Polyphemus yang mengerikan. Setelah berhasil membutakan mata satu sang raksasa dengan sebilah kayu panas, Odysseus merancang strategi pelarian yang sangat brilian dengan mengikatkan tubuh dirinya dan anak buahnya di bawah perut domba-domba gemuk milik Cyclops tersebut. Ketika domba-domba tersebut bergerak keluar meninggalkan gua di pagi hari, Polyphemus memeriksa punggung mereka satu per satu dengan meraba menggunakan tangannya yang besar, sebuah tindakan sensorik membuta yang oleh pengamat sastra seperti Buchan disejajarkan dengan tindakan meraba atau merasakan tanda lemparan diskus oleh dewi Athena yang menyamar di Buku 8. Fokus utama dari ketegangan adegan ini terletak pada domba jantan terbesar yang sengaja dipilih untuk membawa sosok Odysseus di bawah perutnya. domba jantan yang dalam kondisi normal selalu berjalan paling depan dengan langkah-langkah besar yang gagah (makra bibas) menyerupai seorang pejuang Iliadic sejati, kini justru terpaksa berjalan di posisi paling belakang (leleimmenos) karena menahan beban berat sang pahlawan beserta kepadatan pikirannya yang penuh taktik. saya melihat bahwa dengan mengambil posisi di bagian paling belakang ini, Odysseus secara radikal menjungkirbalikkan seluruh sistem nilai medan perang Iliad yang selalu memuliakan barisan depan, ia sengaja memperlambat diri dan menjadi yang terakhir demi menyelamatkan hidupnya, sebuah taktik yang memungkinkannya menyelinap melewati batas maut yang dijaga ketat oleh Polyphemus.


Setelah berhasil meloloskan diri ke pantai dan menaiki kapal mereka, tindakan provokasi Odysseus yang dengan lantang meneriakkan nama dan ejekan kepada Polyphemus memicu kemarahan luar biasa dari sang raksasa, yang kemudian membalas dengan melemparkan dua bongkah batu gunung raksasa ke arah kapal yang sedang berlayar di lautan. Kapal Odysseus yang bergerak menjauh berfungsi layaknya seorang pelari di atas permukaan air yang terus melaju menjauhi kejaran, sementara batu-batu raksasa yang dilemparkan oleh Polyphemus dengan kekuatan penuh selalu jatuh terlalu jauh di depan atau sedikit di belakang kemudi kapal tanpa pernah bisa mengenai sasaran secara tepat. Kegagalan Polyphemus ini mencerminkan kegagalan Achilles saat mengejar dewa Apollo atau Hector, di mana kekuatan lemparan yang dahsyat menjadi sama sekali tidak berguna karena target yang diincar berada dalam posisi yang tidak dapat dijangkau oleh perhitungan yang matang. ada salah satu studi juga yang membahas ini, pemikiran kritis yang diangkat dari analisis Žižek mengenai paradoks klasik Achilles dan kura-kura semakin mempertegas fenomena ini, bahwa masalah utama bukan terletak pada apakah pejuang tercepat dapat melampaui lawannya secara fisik, melainkan pada ketidakmampuan mendasar dari kekuatan murni (bie) untuk menangkap objek yang selalu bergerak terlalu cepat atau terlalu lambat. Polyphemus, yang sepenuhnya mengandalkan ukuran tubuh raksasa dan kekuatan destruktifnya, terperangkap dalam keputusasaan yang sama dengan Achilles, sementara Odysseus melesat maju melampaui ancaman menuju pemulangan yang sukses.


Secara keseluruhan, saya melihat bahwa dinamika pergerakan dalam novel Homer ini membuka sebuah cakrawala baru yang sangat kaya dalam memahami hubungan dialektis dan kekuatan fisik, waktu, dan struktur teks sastra kuno. Iliad adalah sebuah karya yang sepenuhnya terikat pada puitika, sebuah dunia di mana kecepatan kaki kita di atas medan pertempuran merupakan manifestasi langsung dari takdir yang tidak terelakkan dan sering kali berakhir pada kematian heroik yang sia sia. Sebaliknya, Odyssey secara gemilang merayakan seni menjadi sebuah kemampuan filosofis tingkat tinggi untuk mengatur ulang, membalikkan, dan memanipulasi kategori-kategori spasial serta temporal demi kelangsungan hidup pahlawan. Melalui penolakan terhadap kekuatan fisik yang kuat, pengadopsian posisi yang sangat strategis di bawah perut domba, serta pemanfaatan kecerdikan dirinya, Odysseus berhasil mengubah kelemahan fisiknya menjadi sebuah instrumen kemenangan yang mutlak dan elegan. Seni kehidupan seperti ini adalah sebuah cara hidup dan strategi eksistensial yang memungkinkannya menyelesaikan kegelisahan dan hambatannya, membalikkan jalan cerita dari apa yang sudah ada, dan kembali ke rumah dengan selamat sebagai pemenang sejati yang berhasil mengalahkan kekerasan sejarah yang ada di dalam novelnya.
