PUISI ADALAH JEMBATAN UNTUK MELIHAT SEBUAH PERADABAN
Menelusuri Penyair
Gorky Hartanto
5/26/20263 min read
Banyak penulis memulai kariernya melalui esai atau sekadar membagikan catatan puisinya. Salah satu tokoh yang menempuh jalur serupa dan kemudian menjadi salah satu figur paling masyhur dalam dunia perpuisian adalah Octavio Paz. Bagi Paz, menulis puisi merupakan aktivitas yang sarat ambiguitas: sebuah tugas sekaligus misteri, masa lalu sekaligus sakramen, serta profesi (métier) yang pada saat bersamaan juga merupakan hasrat yang tak teredam. Dalam karya-karyanya, Octavio Paz melakukan pengkajian mendalam terhadap hakikat puisi dengan menelusuri akar dan perkembangan tradisi perpuisian dari Yunani Klasik, Cina, Jepang, hingga Eropa. Ia tidak hanya membahas dimensi estetik dan filosofis puisi, tetapi juga mengonfrontasikannya dengan persoalan sosial dan kemanusiaan yang muncul dari masa ke masa, termasuk konteks sosial-politik pada zamannya sendiri. Melalui esai-esainya, Paz menempatkan puisi sebagai ruang refleksi yang hidup—sebagai bentuk perlawanan intelektual terhadap kebermasyarakatan, sekaligus sarana untuk menyingkap makna terdalam dari eksistensi manusia.
OCTAVIO PAZ
Sumber foto : https://colnal.mx/integrantes/octavio-paz/
Dalam sejarah kesusastraan, banyak narasi besar yang diwariskan dalam bentuk extensive poem, yakni puisi yang tersusun dari sejumlah besar baris atau bait. Karya-karya monumental seperti Mahabharata, yang terdiri atas lebih dari dua ratus ribu sajak, merupakan contoh paling representatif dari sebuah tradisi. Dari Jepang, dikenal bentuk Uta, yang biasanya memuat tiga puluh hingga empat puluh sajak. Sementara itu, karya Sor Juana Inés de la Cruz berjudul Primero Sueño mencakup lebih dari lima belas ribu baris puisi. Menurut Paul Valéry, puisi panjang merupakan hasil dari pengembangan suatu exclamation atau seruan yang diperluas secara konseptual dan emosional. Keunggulan dari bentuk extensive poem terletak pada kemampuannya menghadirkan kesinambungan sekaligus kemandirian antarbagiannya—pembaca dapat membedakan bagian awal dan akhir tanpa kehilangan makna keseluruhan.
Sor Juana Inés de la Cruz
Sumber foto : My Favorite Feminist: Sor Juana Inés de la Cruz - Ms. Magazine
Lebih jauh, puisi jenis ini sering kali memancarkan kedalaman intelektual, bergantung pada siapa pengarangnya. Ia bisa tampil romantis, alegoris, atau bahkan reflektif, menghadirkan gambaran dunia yang diimajinasikan maupun kenyataan yang menembus batin pembacanya. Dengan demikian, extensive poem bukan hanya sekadar bentuk panjang dalam puisi, tetapi juga ruang bagi ekspresi intelektual, spiritual, dan emosional manusia yang kompleks. Seiring dengan berjalannya waktu, extensive poem mengalami perkembangan yang mencerminkan dimensi modernitasnya. Bentuk puisi ini tidak lagi hanya menjadi wadah ekspresi estetik, tetapi juga berfungsi sebagai simbol kritik terhadap institusi dan nilai-nilai fundamental seperti agama, filsafat, moralitas, hukum, sejarah, ekonomi, hingga politik. Dalam konteks ini, puisi bertransformasi menjadi medium refleksi dan perlawanan yang merekam kegelisahan manusia terhadap realitas sosialnya.
WS Rendra
Sumber foto : Penghargaan yang Diterima W.S. Rendra | kulturalindonesia.id
Sebagai penulis, fenomena ini mengingatkan saya pada karya Wiji Thukul berjudul Aku Ingin Jadi Peluru, di mana kegelisahan dan ketakutan personal berpadu dengan semangat perlawanan terhadap ketidakadilan sosial. Melalui puisinya, Wiji menghadirkan suara yang lahir dari penderitaan, namun tetap menyelipkan nuansa romantisme terhadap lingkungan dan kemanusiaan di sekitarnya. Hal serupa juga tampak dalam kumpulan sajak milik W.S. Rendra, yang kerap menggunakan dunia alegoris untuk menyampaikan kritik sosial. Alegori dalam puisi-puisi Rendra menciptakan jarak estetis antara realitas dan imajinasi, namun justru melalui jarak itulah pembaca dapat menangkap makna sosial yang lebih mendalam, berikut adalah salah satu puisi WS Rendra yang mengambarkan kegelisahan muda-mudi perihal krisis eksistensial yang dikaitkan dengan bumi yang penuh perperangan yang sangat saya sukai :
Di bumi yang hangus, hati selalu bertanya
apalagi yang kita punya? Berapakah harga cinta?
Di bumi yang hangus hati selalu bertanya
Kita harus pergi kemana, di mana rumah kita?
Di bumi yang hangus hati selalu bertanya
bimbang kalbu oleh cedera
Di bumi yang hangus hati selalu bertanya
hari ini maut giliran siapa?
(dalam kumpulan empat sajak, WS Rendra)
Modernitas pada dasarnya mengidentifikasikan dirinya dengan perubahan. Dalam kerangka ini, kritik dipahami sebagai bentuk perubahan itu sendiri, sehingga keduanya sering kali disamakan dengan gagasan tentang kemajuan. Bagi Karl Marx, pemberontakan revolusioner merupakan bentuk tertinggi dari kritik—yakni kritik yang diwujudkan dalam tindakan (critique in action). Perspektif ini menempatkan kritik bukan sekadar sebagai wacana intelektual, tetapi sebagai dorongan historis yang aktif mengubah tatanan sosial. Dalam ranah kesusastraan dan desain, pandangan serupa tercermin melalui apa yang dapat disebut sebagai estetika modernitas: suatu estetika yang berakar pada romantisisme namun terus berevolusi hingga era kontemporer. Estetika ini menempatkan perubahan sebagai nilai utama baik dalam bentuk isi, maupun cara berpikir—sehingga setiap karya sastra dan desain modern secara implisit mengandung semangat pembaruan, perlawanan terhadap konvensi, serta pencarian makna yang terus bergerak.
Karl Marx lagi makan tomat,
sekian artikel ini tamat.






