Dalam banyak pembahasan sastra, upaya untuk memetakan dinamika diantara suara narator dan ucapan karakter sering kali kembali pada fondasi klasik yang disampaikan oleh Plato. Kita dapat memetakan atau menghidupkan kembali pemikiran Plato dalam The Republic mengenai pembagian gaya kesusastraan menjadi bentuk naratif, dramatis, dan gaya campuran atau mixed styles yang dimana kita dapat menempatkan novel sebagai representasi paling utama dari mixed styles ini, sebuah medan di mana dua jenis penulisan untuk mengungkapkan tuturan yang berbeda secara ontologis dan epistemologis dan harus melebur menjadi satu kesatuan artistik yang sempurna. Persoalan utama yang dihadapi oleh seorang novelis, menurut analisisa saya, bukan hanya bagaimana kita menulis hingga pembaca dapat membedakan berbagai suara karakter seperti halnya dalam drama di teather, melainkan bagaimana menyeimbangkan otoritas narasi dengan kebebasan mimetik karakter yang sering kali memiliki tingkat pemahaman yang parsial, idiosinkratik, bahkan bias.
Guna menguji pemikiran saya secara teoretis, saya menemukan jurnal yang membahasnya yang ditulis oleh Hough pada tahun 1970, ia membahas tentang pembagian kerja linguistik dari novel Emma karya Jane Austen sebagai fokus observasi tunggalnya. Langkah metodologis ini diambil berdasarkan keyakinan kritisisme sastra bahwa sebuah karya individual yang dilihat secara menyeluruh merupakan objek sentral yang paling representatif untuk membongkar habituasi kepenulisan seorang sastrawan, daripada hanya melakukan generalisasi makro atas seluruh korpus penulis. Dalam pengamatannya saya terhadap Emma pun,saya melihat betapa masifnya beban naratif yang dipikul oleh pembangunan dialog, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Adegan-adegan krusial yang menggerakkan perkembangan plot serta membangun tensi emosional tertinggi—seperti manipulasi Emma terhadap Harriet Smith, deklarasi cinta Mr. Elton yang keliru di dalam kereta, hingga pengakuan cinta Mr. Knightley—seluruhnya dieksplorasi oleh Austen melalui jalinan interaksi dialog yang terasa sangat kuat atau intens.
Namun, untuk menghindari pemikiran yang terlalu menyederhanakan hubungan dikotomis antara narasi yang ada dan juga dialog dalam tanda kutip saya menyampaikan juga dari jurnal yang dituliskan oleh Hough yang merumuskan sebuah tipologi yang lebih eksak yang terdiri dari lima jenis diskursus di dalam teks. Jenis pertama adalah authorial voice, sebuah modus tuturan reflektif, hortatori, atau epigramatis yang berdiri di luar ekonomi naratif utama, yang berfungsi sebagai jembatan keterlibatan langsung atau complicity antara penulis dan pembaca. Jenis kedua, yang memegang peranan sangat vital dalam menegakkan kebenaran faktual di dalam novel, yang bisa kita sebut juga sebagai objective narrative. Menurut Hough, narasi objektif ini dicirikan oleh penyajian fakta secara murni tanpa kontaminasi subjektivitas karakter maupun penulis, disampaikan melalui struktur sintaksis yang formal, reguler, dan unidiosyncratic. Di sini, pembaca memberikan persetujuan langsung dan kesepakatan karena adanya konvensi implisit mengenai reliabilitas narator yang tidak mungkin menipu dirinya sebagai pembaca.
Menariknya, saya juga pernah mencatat bahwa objective narrative dalam karya Austen tidak hanya dibangun di atas fondasi fakta yang ada pada masanya, melainkan juga di atas penilaian nilai atau value judgements yang sangat cermat. Bahasa yang digunakan dalam narasi novel yang dituliskan jane austen ini dipenuhi oleh nomina abstrak seperti affection, discipline, heart, dan understanding, serta adjektiva moral seperti right-minded, well-informed, dan competent. Kita dapat meminjam observasi dari C. S. Lewis yang menyatakan bahwa dalam bagian-bagian narasi objektif ini, pembaca seolah menghirup kembali moralitas dari esai-esai Dr. Samuel Johnson dalam The Rambler dan The Idler. Penggunaan kadens Johnsonian ini dievaluasi sebagai sebuah fait d'évocation yang memunculkan etos sosial dan moral yang berbobot, di mana segala bentuk ambiguitas, keraguan, dan ironi sengaja disingkirkan demi menetapkan standar kebenaran normatif yang disepakati bersama antara penulis dan pembacanya.
Di antara narasi yang impersonal dan dialog langsung yang mimetik, terdapat wilayah perantara yang sangat luas yang oleh Hough diidentifikasi sebagai coloured narrative. Jenis ketiga ini terjadi ketika narasi atau observasi impersonal mulai diwarnai secara mendalam oleh subjektivitas, perasaan, dan sudut pandang karakter tertentu, terutama Emma sendiri. Saya sebagai pembaca juga melihat bagaimana gaya bahasa di dalam novel tersebut sering kali berfungsi sebagai sinyal bahaya dalam narasi cerita yang bisa dirasakan para pembacanya. Ketika teks menggunakan frasa yang mencerminkan cara pandang atau jargon kelas sosial—seperti potongan monolog interior Emma mengenai posisi sosial Mr. Elton yang dianggapnya quite the gentleman—narator sebenarnya sedang memberikan ruang bagi pembaca untuk ikut masuk ke dalam ilusi sang tokoh di dalamnya. Berbeda dengan narator objektif yang selalu benar, karakter seperti Emma sangat rentan melakukan kekeliruan interpretasi terhadap realitas di sekitarnya.
Konsentrasi dari fenomena yang ada didalam novel mengalami pergeseran sudut pandang yang mengarah pada jenis keempat, yakni free indirect style atau gaya tidak langsung dan bebas, sebuah konsep yang menurut catatan Hough telah menjadi subjek literatur yang sangat luas dalam tradisi linguistik Prancis melalui pemikiran para ahli seperti Marguerite Lips dan Stephen Ullmann. Jenis ini beroperasi ketika kata-kata persis dari seorang karakter atau ipsissima verba disematkan secara langsung ke dalam aliran naratif namun dengan penyesuaian gramatikal mengikuti pola kalimat tidak langsung. Karakteristik penulisan seperti ini memungkinkan Austen untuk memanipulasi permukaan teks menjadi sangat dinamis, menciptakan efek ironi yang berlapis tanpa merusak kontinuitas cerita. Kita dapat mengetahui setelah membaca karya-karyanya bahwa ironi dalam karya Austen bukanlah senjata destruktif untuk meruntuhkan eksistensi tokoh, melainkan sebuah instrumen penanganan secara naratif yang sering kali bersifat indah, seperti yang terlihat pada penggambaran antara ilusi subjektif Miss Bates yang menganggap dirinya dikelilingi berkah dengan realitas objektif kondisinya yang serba kekurangan. Narasi ini mencerminkan apa yang disebut Friedrich Schiller sebagai konsep bermain dalam seni (art as play), yaitu sebuah virtuosisme estetis yang dijalankan dengan kehalusan dan variasi yang paling tinggi.
Dari perspektif arsitektur novel, penggabungan antara coloured narrative dan free indirect style dapat saya kategorikan sebagai bagian dari strategi struktural untuk mengeksplorasi tema disilusi atau disillusionment. Berdasarkan analisis C. S. Lewis, tema dari sebagian besar novel Austen adalah penyadaran moralitas atau kebangkitan dari pandangan yang keliru menuju pengenalan terhadap hal-hal sebagaimana adanya. Hough dalam jurnalnya juga berargumen bahwa efektivitas komedi dan resolusi dalam Emma akan lenyap jika pembaca tidak diizinkan untuk ikut berbagi dalam kesalahan penilaian sang pahlawan wanitanya sejak awal cerita. Oleh sebab itu, gaya penulisan Austen sengaja mengaburkan batas kebenaran objektif secara temporer, menciptakan ketegangan yang didasarkan pada plausibilitas psikologis karakter, sebelum akhirnya mengarahkan pembaca pada momen anagnorisis atau penyingkapan kebenaran di mana bahasa moral Dr. Johnson kembali mengambil alih kendali teks.
Saya juga melihat adanya direct speech didalamnya dan kita dapat mengamati adanya pembatasan yang sangat ketat dalam penggunaan ragam bahasa oleh Austen. Seluruh karakter dalam novel ini berbicara dalam koridor bahasa masyarakat terdidik yang pantas ditemui di dalam ruang tamu seorang gentleman, sehingga variasi dialek populer maupun diskursus intelektual yang profetik sepenuhnya dieksplorasi di luar teks. Di dalam ruang lingkup yang sempit ini, perbedaan nada sekecil apa pun menjadi sangat krusial. Saya dapat menegaskan bahwa dialog dalam novel Austen pada dasarnya bersifat fungsional untuk menggerakkan plot dan melengkapi karakterisasi yang ada, ia tidak pernah menyajikan narasi karakter yang sepenuhnya baru di luar batas yang telah digariskan oleh penilaian narator yang terasa sangat objektif. Puncak tertinggi dari dialog ini ditempati oleh cara berbicara Mr. Knightley yang analitis, tertata secara logis, dan penuh dengan abstraksi moral. Karakter-karakter yang disetujui secara moral oleh teks akan mengasimilasikan ucapan mereka mendekati standar objective narrative ini, sementara penyimpangan dari norma kebahasaan tersebut menandai tingkat kekonyolan, kevulgaran, atau kecacatan moral seorang tokoh, seperti yang terlihat pada ketertarikan Mrs. Elton pada detail material trivial seperti kain satin dan renda.
Pada dimensi yang lebih rinci, saya membaca dari penilaian Hough yang mengoreksi kecenderungan kritik konvensional yang sering kali melihat pencapaian struktural Austen sebagai sesuatu yang timeless dan ahistoris. Hough menempatkan struktur kebahasaan novel ini sebagai refleksi dari kesadaran sosial kelompok gentry di Inggris, khususnya dari perspektif dunia wanita yang tidak terlibat langsung dalam aktivitas ekonomi produktif atau jabatan politik negara. Dalam dunia yang terisolasi ini, interaksi sosial seperti pesta berdansa, kunjungan pagi hari, dan tata krama memikul bobot eksistensial yang sangat besar karena di situlah nasib perkawinan dan status ekonomi seorang wanita dipertaruhkan. Saya izin berargumen juga bahwa harmoni diantara tindakan, karakter, nilai, dan bahasa dalam novel Austen hanya mungkin terwujud karena adanya kesepakatan moralitas kelas sosial yang ada pada masanya. Secara tidak langsung ideologis Austen dievaluasi sebagai sebuah upaya pembentukan kesadaran moral yang berorientasi padamasa lalu—mengadopsi kembali etos Samuel Johnson dari pertengahan abad kedelapan belas—sebagai bentuk benteng spiritual untuk membendung guncangan sejarah, peperangan Napoleonik, dan revolusi sosial yang sedang melanda Eropa di zamannya.
Sebagai penutup saya izin mengaitkan satu penulis yang jurnalnya paling sering disebutkan disini, Hough menegaskan bahwa realisme Jane Austen lebih tepat dipahami melalui coherence theory of truth daripada correspondence theory, karena kebenaran di dalam novelnya dicapai melalui pembatasan kemungkinan secara sengaja dan pembangunan sistem internal yang sangat koheren, bukan karena kesesuaian dengan realitas sosiologisdi inggris yang sebenarnya penuh pergolakan. Kepatuhan yang kaku terhadap kontrol linguistik ini berhasil memotong elemen ketidakpastian sejarah, menciptakan sebuah citra kehidupan borjuis di Inggris yang berhasil mengisolasi diri secara spiritual dari konfrontasi kelas dan konflik dunia. Meskipun finesse dan kehalusan penulisan Austen berada pada tingkat yang sangat tinggi, kita juga dapat menyimplifikasikan kesimpulannya dengan nada skeptis bahwa novel-novel tersebut pada akhirnya tidak termasuk dalam ranah sastra dunia atau world literature dalam arti yang universal, melainkan tetap menjadi manifestasi dari kebiasaan mentalitas bangsa Inggris yang sangat melokal, kokoh, dan terkondisikan oleh perlindungan sejarah kelasnya sendiri.


