HIKIKOMORI ALA DOSTOEVSKY

Notes from Underground by F. Dostoevsky

Gorky Hartanto

5/26/20264 min read

Notes from Underground karya Fyodor Dostoevsky sering kali dipahami sebagai sebuah luapan emosional yang irasional melawan determinisme ilmiah yang bergejolak pada masanya. Banyak kritikus, seperti Joseph Frank, berargumen bahwa sang Tokoh Underground Man terjebak dalam kontradiksi batin yang menyiksa seperti dirinya secara intelektual yang menerima premis-premis ilmiah dari para pemikir yang dinilai radikal pada masanya, namun secara intuitif-emosional ia menolak implikasi amoral yang merenggut tanggung jawab moral manusia. Namun, melalui perspektif yang saya dapatkan dari beberapa jurnal yang saya baca setelelah membaca keseluruhan buku notes from underground, saya sangat menyarankan membaca yang paling saya sukai penjabarannya yaitu jurnal yang ditulis oleh James P. Scanlan bahwa ada sebuah analisis yang jauh lebih terstruktur dan bernuansa filosofis dari novel Notes from Underground karya Fyodor Dostoevsky. dalam jurnalnya ia mengajak kita melihat bahwa Tokoh Underground Man sesungguhnya bukan seseorang kritikus yang emosional, melainkan seorang tokoh egois yang digunakan Dostoevsky untuk meruntuhkan fondasi filosofis Rational Egoism yang digelorakan oleh kaum nihilis Rusia seperti Nikolay Chernyshevsky dan Dmitry Pisarev.

Saya mendalami bahwa Dostoevsky sengaja menciptakan karakter ini sebagai antitesis dari karakter-karakter buatan Chernyshevsky dalam novel What Is to Be Done? Jika Chernyshevsky menampilkan sosok yang terlihat egois dengan tindakannya yang selalu mendatangkan kebaikan dan keharmonisan sosial secara ajaib bagi orang lain, Dostoevsky justru menghadirkan realitas egoisme yang otentik, merusak, dan menjijikkan. Tokoh dalam notes from underground mengisolasi dirinya di sudut yang pengap, terobsesi secara akut pada dirinya sendiri (self-solicitous), dan secara moral mendefinisikan dirinya sebagai manusia jahat. Ia dipenuhi kecacatan moral seperti iri hati, kemalasan, kelancangan, hingga ketidakmampuan total untuk mencintai sesama, sebagaimana yang terlihat dalam hubungannya dengan Liza. Melalui karakterisasi yang kelam ini, Dostoevsky menyatukan sanggahan personal dan konseptual bahwa ia menunjukkan rupa asli dari egoisme yang tengah mewabah di Rusia akibat pengaruh Barat, sekaligus menggunakannya sebagai subjek yang meluncurkan kritik rasional yang menghancurkan teori Egoisme Rasional itu sendiri.

"I am a sick man... I am a wicked man"

Salah satu poin krusial yang saya dapatkan adalah adanya kepadatan struktur logis dalam monolog The Underground Man yang sering kali terabaikan akibat nadanya yang meledak-ledak. Kritik sang tokoh terhadap Egoisme Rasional dapat kita petakan ke dalam dua dimensi, di mana yang pertama diarahkan langsung untuk merefutasi tesis deskriptif atau Egoisme Psikologis. Teori kaum nihilis mengklaim bahwa manusia secara alamiah selalu bertindak demi memaksimalkan keuntungan atau kepentingan terbaik yang mereka persepsikan. Tokoh Bawah Tanah mematahkan asumsi ini secara diskursif melalui observasi atas perilakunya sendiri maupun realitas sejarah manusia yang lebih luas (Dmitry Pisarev, Thinking Proletaria). Dalam skala personal, ia menyodorkan bukti-bukti inertia dirinya yang bertentangan dengan asas keuntungan. Sebagai contoh, meskipun ia menderita sakit dan menghormati dunia kedokteran, ia dengan sengaja menolak untuk berkonsultasi dengan dokter. Meskipun ia sadar bahwa tinggal di Petersburg sangat mahal dan merusak kesehatannya, ia tetap memilih keras kepala untuk bertahan di sana. Untuk memperluas generalisasi argumen ini agar tidak dianggap sebagai anomali psikologis belaka, ia menunjuk jutaan fakta dalam sejarah umat manusia. dan kita dapat melihat argumennya bahwa manusia sering kali secara sadar mengesampingkan keuntungan mereka dan melemparkan diri ke dalam risiko serta jalur yang absurd, murni karena mereka tidak ingin didikte oleh jalan yang telah ditentukan. Manusia, menurut analisis Dostoevsky ini, memiliki kapasitas inheren untuk bertindak melawan hukum akal budi dan keuntungan mereka sendiri demi menegaskan sesuatu yang jauh lebih fundamental.

Puncak dari runtutan yang terasa logis yang dibangun dalam Notes from Underground beralih pada reductio ad absurdum yang menghancurkan dimensi normatif atau preskriptif dari Egoisme Rasional. Kaum nihilis membayangkan sebuah tatanan masyarakat utopis—di mana perilaku manusia dapat diprediksi secara matematis layaknya logaritma karena didasarkan pada hukum alam dan ketiadaan kehendak bebas. Di sinilah The Underground Man memperkenalkan sebuah variabel yang tidak diantisipasi oleh para pemikir rasionalis, kehendak bebas dan kapasitas manusia untuk bertindak semau mereka sendiri.

Bagi manusia, kebebasan memilih dan bertindak secara mandiri adalah keuntungan yang paling menguntungkan (most advantageous advantage) yang melampaui segala hierarki keuntungan material atau biologis. Manusia merdeka bersedia mempertaruhkan segalanya, menghadapi bahaya, dan secara sengaja merusak diri mereka sendiri demi menegaskan bahwa mereka adalah manusia, bukan sekadar pasak organ atau tuts piano. Sang tokoh memproyeksikan bahwa di tengah masa depan yang serba rasional, akan selalu muncul seorang tuan yang berkacak pinggang dan mengajak orang-orang untuk menendang semua logaritma itu ke neraka agar mereka dapat hidup kembali berdasarkan kehendak mereka sendiri yang bodoh namun bebas.

Melalui argumen ini, saya melihat bagaimana Dostoevsky, menjebak Egoisme Rasional ke dalam sebuah dilema yang mematikan. Jika kehendak bebas dikeluarkan dari daftar motivasi manusia, maka teori Egoisme Rasional secara deskriptif salah karena gagal menjelaskan mengapa manusia sering bertindak melawan keuntungan material mereka demi mengekspresikan kebebasan. Sebaliknya, jika kehendak bebas dimasukkan ke dalam daftar keuntungan tersebut, maka teori ini secara normatif tidak akan dapat diterima oleh para pencetusnya sendiri. Sebab, pengakuan terhadap kebebasan kehendak yang absolut membuat tindakan manusia menjadi radikal dan tidak dapat diprediksi, yang pada gilirannya menghancurkan program rekayasa sosial dan utopia ilmiah yang mereka agungkan. Skenario dilematis ini tidak hanya membongkar kerapuhan nalar nihilis, melainkan juga mengantisipasi kemunculan gagasan Grand Inquisitor dalam The Brothers Karamazov yang kelak memilih untuk merenggut kebebasan manusia demi memberikan kepuasan material yang semu. Dengan ini saya menyarankan kalian sabagai pembaca untuk medalami tulisan lainnya juga untuk menegaskan argumen saya melalui beberapa buku dan jurnal yang sudah saya list untuk kalian :

  1. Chernyshevsky, N. G. What Is to Be Done?

  2. Dostoevsky, F. Notes from Underground.

  3. Frank, J. Dostoevsky: The Stir of Liberation, 1860–1865.

  4. Scanlan, J. P. Journal of the History of Ideas, 60(3), 549–567.

  5. Scanlan, J. P. Dostoevsky the Thinker.

  6. Bakhtin, M. Problems of Dostoevsky's Poetics.

  7. Frank, J. The Sewanee Review, 69(1), 1–33.

  8. Girard, R. Resurrection from the Underground: Feodor Dostoevsky.

  9. Kaufmann, W. Existentialism from Dostoevsky to Sartre.

  10. Leatherbarrow, W. J. The Cambridge Companion to Dostoevskii.

Ikan hiu makan pepaya,
artikelnya sigini dulu ya!

Kontak

Hubungi kami untuk pertanyaan atau saran

Email

Telepon

halo@raganusa.com

+628123456789

© 2025. All rights reserved.