HARTA, TAHTA, GRETE SAMSA

Interprestasi dari Metamorphosis karya Franz Kafka

Gorky Hartanto

5/26/20263 min read

Makan roti pake pizza,

Siapa sih yang ga kenal franz kafka!

Sebelum kalian membaca artikel ini dibarengi kalian menghabiskan makanan kalian, silahkan cek toilet kalian masing masing, siapa tau ada kecoa disana, haha. Siapa yang tidak tau karya klasik yang dituliskan Franz Kafka, Metamorphosis, yang telah melahirkan banyak karya lain dan interpretasi yang beragam sejak diterbitkannya. Zuzur saya salah satu penikmat tulisan tulisan yang merupakan kritik terhadap karya tersebut dan sebagian besar tulisan yang mengkritiknya didominasi oleh penulis laki-laki, di sisi lain saya suka juga membaca tulisan para woman. Teori berbasis gender dan kritik feminis jarang diartikulasikan dalam diskusi awal mengenai karya ini, dan saya menemukan salah satu studi yang dituliskan oleh Nina Pelikan Straus yang menawarkan kritik feminis yang menggeser sorotan dari alienasi pria menuju peran yang sering terabaikan berupa dinamika peran perempuan, khususnya Grete Samsa. Jadi setidaknya tulisan saya juga bisa dibilang merujuk ke tulisan beliau dan juga interpretasi saya personal setelah membacanya.

Secara keseluruhan, para pecinta sastra dan pengkritiknya lebih sering memandang Metamorphosis melalui lensa seperti konflik Oedipal (baca juga psikoanalisisnya sigmund freud kawan) antara ayah dan anak, atau narasi Marxis tentang alienasi pekerja dari budaya yang dihasilkan dari kapitalisme. Dalam pendekatan Marxis, tokoh utama Gregor samsa dipandang sebagai pria yang dikomodifikasi dan dieksploitasi oleh sistem industri. Namun saya harus menggarisbawahi bahwa pembacaan sering kali mengabaikan fakta bahwa perempuan dalam keluarga Samsa juga dieksploitasi. Khususnya, pekerjaan Grete sangat terkait dengan mengurus kekacauan yang dibuat oleh Gregor samsa.

Dari apa yang telah saya baca, saya melihat bahwa ada gagasan tentang pertukaran peran antara kakak dan adikdalam metamorphosis karya franz kafka. Metamorfosis dari bentuk fisik Gregor dapat saya artikan dengan perubahan sosial dan kemandirian dirinya, disisi lain selama gregor samsa melemah kita bisa melihat perubahan adiknya yang tidak kalah penting. Dalam wujud subhumannya, Gregor menukar tanggung jawab dengan bentuk ketergantunganterhadap sekelilingnya. Ia direduksi menjadi makhluk yang pasif dan harus menyerah pada posisi yang sering diasosiasikan dengan peran perempuan. Disisi lain Grete menukar posisi ketergantungannya dengan kemandirian dan efisiensi yang sebelumnya dimiliki oleh Gregor]. Kepribadiannya sebagai wanita terbuka secara perlahan seiring dengan runtuhnya kehidupan Gregor sebagai seorang pria. Ironisnya, kebangkitan Grete ini terwujud di atas kemunduran kakaknya.

Diawal artikel ini saya telah menyebutkan salah satu orang yang membahas metamorphosis dari sisi feminisme yaitu Nina Pelikan Straus. Straus menelusuri sumber kecemasan gender dalam narasi ini pada kehidupan pribadi Kafka, khususnya pengalamannya dengan perempua. Kafka sering dihadapkan pada rasa kelemahannya sendiri di hadapan kekuatan para wanita di sekitarnya . Tulisan-tulisan Kafka yang berkaitan dengan Felice Bauer juga menunjukkan upayanya untuk menghubungkan kesehatan dan efisiensi Felice dengan kelemahan dan kebimbangan dirinya sendiri. Kafka memproyeksikan harapannya akan kehangata untuk mempertahankan energi diri kita, hal yang ia rasa tidak dimiliki oleh fisiknya yang lemah, namun dia proyeksikan atau dibayangkan ada pada tubuh wanita. Transformasi Gregor ke dalam cangkang serangga merupakan pencerminan dari kegagalan Kafka membentuk identitas maskulin didalam dirinya. Kafka merasa ketidakmampuannya menjalani peran kemaskulinan yang dominan memaksanya masuk ke ruang penulisan yang subversif untuk generasinya yang cukup memproyeksikan maskulinitas seorang laki-laki.

Meskipun Grete di akhir cerita tampak meraih kemandirian, perubahan ini tidak terlihat membebaskan dirinya. Di akhir cerita, Grete digambarkan bertransformasi dan merenggangkan tubuh menyambut mimpi baru keluarganya setelah Gregor dimusnahkan seperti sampah. saya menyoroti bahwa pemberdayaan Grete juga membawa bentuk reifikasi yang ironis. Setelah mekar menjadi perempuan muda yang memenuhi syarat untuk pasar kerja dan pernikahan, ia pada akhirnya membawa nilai pasar yang sebelumnya menghancurkan Gregor. Transformasi wanita untuk mengisi posisi pria yang hilang tidak lantas mengubah sistem sosial yang ada, melainkan hanya mengekalkan sistem kapitalistik patriarki tersebut.

Tulisan ini menandakan bahwa saya sebagai pembaca Metamorphosis tidak hanya melihat perubahan Gregor Samsa, tetapi saya juga meliahat transformasi keluarganya, khususnya Grete Samsa. Karya ini membongkar ekspektasi gender dengan menunjukkan bahwa kemerosotan tokoh pria dibarengi dengan bangkitnya tokoh perempuan, yang pada akhirnya memunculkan realitas kelam tentang invalidasi kemanusiaan.

Makan roti pake lasagna,

Sampai jumpa ditulisan selanjutnya.

Kontak

Hubungi kami untuk pertanyaan atau saran

Email

Telepon

halo@raganusa.com

+628123456789

© 2025. All rights reserved.