Bagaimana Estetika Prosa Mikhail Lermontov Mentransfigurasi Perdebatan Teologi di Rusia pada abad 20.

Sastra Rusia

Gorky Hartanto

6/1/202613 min read

Dalam meninjau cakrawala sastra klasik Rusia, karya-karya Mikhail Yuryevich Lermontov selalu menempati posisi yang penuh teka-teki sekaligus sakral bagi para pembaca dan akademisi di Rusia. maka dari itu saya mencoba tidak sembarangan membahasnya dengan menggunakan beberapa sumber jurnal ilmiah agar tidak menyalah artikan literatur yang ditulis oleh beliau, salah satu artikel yang saya soroti adalah tulisan dari Dr. A. V. Gulin yang mengupas tuntas bahwa warisan Mikhail Yuryevich Lermontov tidak pernah berhenti dipelajari dan dianalisis oleh para kritikus sejak kematian tragisnya, namun akar spiritual terdalam yang membentuk kepribadian unik sang penyair tetap menjadi misteri yang tidak akan pernah sepenuhnya terpecahkan. Menurut pandangan S. V. Shuvalov yang dikemukakan pada tahun 1914, orientasi religius dalam tulisan-tulisan Lermontov bukanlah sekadar hasil dari pencarian intelektual atau kerja otak yang berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang mendesak, melainkan merupakan sesuatu yang diberikan secara langsung serta mencerminkan esensi spiritualnya yang murni sejak awal. Sebagaimana dicatat lebih lanjut dalam analisis S. V. Shuvalov tersebut, keyakinan spiritual ini tidak mengalami perubahan sepanjang kehidupan sadar Lermontov, di mana ia memulainya sebagai fondasi awal jalan kreatifnya hingga membawanya masuk ke liang kubur. Berdasarkan kesimpulan teoretis yang ditarik oleh A. V. Gulin, Lermontov pada hakikatnya adalah seorang penyair dari satu gagasan tunggal yang mendominasi seluruh hidupnya dengan kekuatan pendekatan yang tiada duanya, yaitu pemikiran Kristen yang dihayati secara intens mengenai hilangnya kebahagiaan surgawi, jalan untuk menemukannya kembali, atau kepasrahan atas hilangnya kebahagiaan tersebut secara kekal dalam kehidupan fana manusia.

Dalam melihat lebih dalam karya karya Lermontov saya juga melihat dari jurnal lain bahwa instrumen filologi tradisional sering kali terbukti kurang efektif dan memiliki keterbatasan besar dalam menyentuh inti terdalam subjek. Konsep-konsep metodologis seperti romantisisme dan realisme psikologis, menurut apa yang saya pelajari, sebenarnya hanyalah bentuk-bentuk historis-kultural yang membungkus pencarian religius sang seniman yang pada dasarnya bersifat suprahistoris dalam skala dan sifat eksistensialnya. Oleh karena itu, berdasarkan pengamatan A. V. Gulin juga saya dalami untuk mengetahui eksistensi dari lermontov dan bukanlah suatu kebetulan jika upaya-upaya paling sukses dalam memecahkan misteri Lermontov justru sering kali tidak datang dari kalangan filolog murni, melainkan dari tokoh-tokoh spiritual Gereja atau pemikir sekuler yang memiliki kecenderungan religius-filosofis yang kuat. Lermontov sendiri, sebagaimana dijelaskan dalam berbgai teks jurnal, memberikan banyak kunci yang terpercaya untuk membuka inti spiritual dari dunia artistiknya, dan salah satu kunci paling andal yang ia wariskan adalah sebuah puisi masa muda luar biasa yang ditulis pada tahun 1831 berjudul Angel. Menurut evaluasi teoretis A. V. Gulin, puisi Angel ini bukan hanya sekadar mahakarya absolut pertama dari Lermontov, melainkan berfungsi sebagai sebuah programma unik yang melingkupi seluruh rentang spiritual dan spektrum kreatif sang penyair di masa-masa selanjutnya.

Puisi Angel tersebut secara puitis menggambarkan perjalanan seorang malaikat yang terbang di langit tengah malam sambil menyanyikan lagu yang tenang tentang kebahagiaan roh-roh tak berdosa di taman surga serta pujian yang tulus kepada Tuhan Yang Maha Besar. Menurut analisis yang coba saya lakukan, puisi beliau merupakan karya yang unik tidak hanya dalam korpus Lermontov melainkan dalam seluruh sejarah kesusastraan Rusia, karena belum pernah ada seorang pun yang berhasil mengekspresikan secara penuh melalui sarana puitis mengenai kerinduan duniawi manusia yang disebut sebagai kehidupan surgawi yang bebas dari dosa. Pada awal abad kedua puluh, sebagaimana dicatat dalam sejarah Rusia, Starets Varsonofiy (Plikhankov) dari Optina sering kali mengenang Lermontov dalam surat-surat dan khotbahnya kepada anak-anak rohaninya. Meskipun penilaian Starets Varsonofiy terhadap nasib akhir sang penyair pasca kematian sering kali bernada tidak menggembirakan akibat tragedi duelnya, ia secara khusus memisahkan beberapa puisi yang dianggapnya menandai kebenaran spiritual yang luar biasa, dengan menempatkan puisi Angel di posisi yang paling utama. Berdasarkan penuturan Starets Varsonofiy, terdapat sebuah tradisi spiritual yang menyatakan bahwa sebelum manusia dilahirkan ke dunia fana, jiwanya terlebih dahulu melihat keindahan surgawi tersebut, dan setelah bersatu dengan tubuh keduniawian, jiwa tersebut terus mengalami kerinduan yang mendalam terhadap keindahan firdaus. Kerinduan akan Tuhan yang membekas dalam jiwa ini, menurut penegasan Starets Varsonofiy, pada akhirnya menjadi bagian tak terpisahkan dari nasib mayoritas umat manusia yang merana di atas bumi.

Melalui perspektif teologis yang sejalan dengan pengamatan mistik tersebut, saya menemukan studi yang menjelaskan tokoh bernama Archimandrite Konstantin (Zaitsev) yang menyatakan bahwa tidak ada penyair yang lebih dekat dengan hati manusia Rusia selain Lermontov, di mana dari sudut spiritual yang paling intim, suara puitis dari Lermontov membantu manusia sejak masa kanak-kanak untuk belajar mencintai tanah air serta memuliakan Tuhan dan dunia-Nya yang indah. Sesuai dengan tulisan Archimandrite Konstantin, suara Lermontov yang luar biasa dan tidak tertandingi ini, sekali meresap ke dalam jiwa, tidak akan pernah meninggalkan batin manusia dan terus bergema bagaikan musik yang bukan berasal dari dunia ini, dan mengabaikan segala bentuk kebisingan dari kesia-siaan duniawi. Berdasarkan argumen yang diajukan oleh Archimandrite Konstantin, sangat banyak orang dalam lingkungan masyarakat Rusia yang sisa-sisa ingatan mereka tentang surga sepenuhnya bersumber dari apa yang berhasil mereka jaga di dalam jiwa mereka melalui puisi-puisi doa Lermontov yang didengar sejak kecil. Dr. A. V. Gulin menambahkan bahwa kemampuan Lermontov untuk membuka kekuatan visi spiritual mengenai keindahan surgawi dan kebenaran yang tidak ternoda oleh dosa merupakan karunia yang unik, di mana sang penyair tampaknya dianugerahi jalan khusus untuk kembali menuju keindahan asal tersebut melalui pemurnian batin yang konstan.

Gerakan kembali atau penerbangan malaikat yang membawa jiwa manusia menuju keabadian surgawi ini, menurut pengamatan A. V. Gulin, telah diantisipasi oleh Lermontov dalam beberapa momen penting di sepanjang karier kreatifnya. Berdasarkan pembacaan Gulin terhadap bagian akhir dari puisi Demon, terdapat sebuah perdebatan kosmis antara Malaikat dan Iblis yang memperebutkan jiwa Putri Tamara, di mana tindakan Malaikat yang membawa jiwa yang terselamatkan itu ke tempat tinggi mencerminkan harapan Lermontov sendiri atas akhir dari pergulatan batinnya yang dahsyat. Sebagaimana dikutip dari bait-bait puitis Demon tersebut, sang Malaikat menegaskan bahwa jiwa Tamara adalah jenis jiwa yang kehidupannya di bumi hanyalah sesaat dari penderitaan yang tak tertahankan dan kesenangan yang tak terjangkau, ditenun oleh Pencipta dari eter terbaik sehingga ia tidak diciptakan untuk dunia fana ini. Citra spiritual yang serupa, menurut catatan A. V. Gulin, muncul pula dalam puisi Molitva kedua yang ditulis pada tahun 1837, di mana memuat permohonan yang hangat kepada Perawan Maria yang Kudus agar mengirimkan malaikat terbaik untuk menyambut jiwanya yang indah di tempat pembaringan yang penuh duka. Berdasarkan komentar S. V. Shuvalov, sosok malaikat yang membawa jiwa dalam pelukannya, baik turun dari langit maupun naik menuju langit, memang merupakan sebuah citra puitis, namun citra tersebut memiliki makna yang sangat nyata dan objektif bagi Lermontov seolah-olah entitas surgawi itu memiliki eksistensi objektif layaknya objek material di dunia nyata.

Tahun 1837, yang dicatat sebagai tahun penuh duka dalam sejarah sastra Rusia akibat gugurnya Alexander Pushkin, dianalisis oleh A. V. Gulin sebagai tahun pertama dari kematangan puitis bagi Lermontov pribadi. Menurut hipotesis yang diajukan oleh A. V. Gulin, Lermontov pada masa itu merasakan dirinya sebagai pewaris kreatif langsung dari Pushkin dan mengalami keyakinan batin yang belum pernah ada sebelumnya terhadap kekuatan puitisnya sendiri, di tengah absennya bakat puitis lain yang setara di Rusia saat itu. Berdasarkan perspektif yang dipaparkan oleh Gulin, keberanian dan ketetapan hati Lermontov saat menulis puisi Smert Poeta demi membela kebenaran tertinggi, serta kesiapannya untuk membayar tindakan tersebut dengan nasib dan masa depannya sendiri, telah memperkuat batin sang seniman dan memperbarui dunia kreatifnya secara radikal. Dalam waktu yang sangat singkat pada periode penuh gejolak tersebut, menurut penelitian A. V. Gulin, lahirlah hampir semua ciptaan Lermontov yang paling tercerahkan, di mana tempat khusus di antaranya ditempati oleh puisi Borodino dan Pesnya pro tsarya Ivana Vasilyevicha, molodogo oprichnika i udalogo kuptsa Kalashnikova. Melalui karya-karya berlatar masa lalu nasional tersebut, Lermontov menurut interpretasi Gulin membuka jalan pengabdian heroik di bumi demi mencapai ideal surgawi, di mana jiwa sang penyair menjadi sangat responsif terhadap pengorbanan demi kesucian tanah air sebagai takdir sejati manusia Rusia yang berorientasi pada keabadian.

Karakter-karakter yang lugas dan tulus seperti prajurit artileri tua dan kolonel yang digambarkan sebagai pelayan raja dan ayah bagi para prajurit dalam Borodino, serta pedagang Kalashnikov yang gagah berani dalam mempertahankan kehormatannya sendiri dan kehormatan dunia Rusia, menurut penilaian saya yang dikuatkan oleh tulisan dari A. V. Gulin bahwa masing-masing membawa terobosan nyata dari dunia yang penuh dosa menuju kesempurnaan malaikat surgawi. Terobosan spiritual ini, berdasarkan penjelasan A. V. Gulin, terjadi sebagai bentuk penyalaan dan kebangkitan jiwa Kristen yang hidup, yang dimanifestasikan dalam bentuk antusiasme Kristen yang mendalam atau hristiansky vostorg. Jalan untuk menemukan kembali surga yang hilang melalui pengorbanan heroik ini tidak hanya digambarkan melalui narasi epik, melainkan juga ditandai dengan kekuatan lirik yang sangat menyentuh hati. Menurut kronologi biografi yang diangkat oleh Gulin, setelah Lermontov menyaksikan kehidupan di desa-desa Cossack di sepanjang aliran Sungai Terek pada tahun 1837, ia menulis sebuah karya monumental setahun kemudian yang dikenal luas sebagai The Cossack Lullaby.

Dalam meninjau karya The Cossack Lullaby, kita dapat melihat bahwa tidak ada karya lain dalam puisi Rusia yang berbicara secara begitu sederhana, jernih, dan terang tentang kekuatan sakral dari kasih sayang seorang ibuBait-bait puisi ini, menurut pandangan Gulin, membubarkan sejenak kabut dari kesan-kesan kehidupan fana dan mengembalikan setiap pembaca pada awal mula eksistensi mereka, yaitu pada keajaiban agung kelahiran manusia serta hubungan misterius yang menyatukan ibu dan bayinya untuk selamanya. Berdasarkan kesimpulan Gulin, pengorbanan demi kebenaran suci tanah air yang jujur membuka jalan menuju keabadian bagi para pahlawan pertempuran Borodino dan pedagang Kalashnikov, yang mewakili jalan pengabdian pahlawan pria, sementara The Cossack Lullaby menyuarakan pengorbanan wanita melalui kasih ibu dan kesabaran yang tidak kalah menyelamatkannya bagi jiwa. Dalam pengorbanan religius ini, menurut penafsiran A. V. Gulin, sang ibu yang saleh turut mendekatkan diri ke surga, sehingga seluruh puisi fana tersebut dipenuhi oleh kedamaian surgawi dan kelembutan hati yang menunjukkan kehadiran Sang Pencipta secara nyata.

Hubungan batin antara kasih ibu dan lagu malaikat surgawi ini diperkuat oleh catatan pribadi Lermontov sendiri yang ditulis pada tahun 1830, di mana sang penyair mengenang bahwa ketika ia berusia tiga tahun, ada sebuah lagu yang membuatnya menangis yang dinyanyikan oleh almarhum ibunya, sebuah lagu yang tidak dapat ia ingat liriknya secara sadar namun ia yakini akan memberikan efek emosional yang sama jika ia mendengarnya kembali. Menurut interpretasi yang diberikan oleh D. S. Merezhkovskii, seluruh puisi Lermontov pada dasarnya adalah sebuah ingatan kolektif akan lagu ibu dan lagu malaikat ini, sebuah gema dari suara yang pernah didengar di masa keabadian masa lalu. Bukti empiris mengenai orientasi spiritual pribadi Lermontov ini juga ditemukan dalam dokumen sejarah pascakematiannya, di mana berdasarkan dokumen resmi "Inventarisasi harta benda yang tersisa setelah kematian Letnan Lermontov yang tewas dalam duel", tercatat kepemilikan empat ikon kecil yang menggambarkan Archangel Michael, Santo Yohanes Pejuang, Santo Nikolas sang Pembuat Mukjizat, dan seorang santo yang tidak dikenal, serta sebuah salib perak berlapis emas yang berisi relik suci. Berdasarkan fakta-fakta tersebut, saya menyimpulkan bahwa pengalaman doa Lermontov adalah wilayah yang sangat krusial, namun tiga puisi berbeda yang sama-sama diberi judul Molitva menjadi saksi tak terbantahkan atas kerinduan batinnya yang luar biasa kuat terhadap surga.

Meskipun Lermontov memiliki memori yang kuat akan keindahan firdaus, kita kembali ke jurnal yang dituliskan oleh A. V. Gulin yang mengingatkan bahwa ingatan surgawi tersebut membawa konsekuensi bagi sifat dasar manusia yang telah dinodai oleh kejatuhan dalam dosa, di mana kerinduan tinggi tersebut dapat mengarahkan manusia kepada Tuhan atau sebaliknya menjadi penderitaan tanpa akhir dari seorang pendosa yang tidak bertobat. Puisi Angel, menurut argumen yang beliau tuliskan, membiarkan akhir dari pergulatan jiwa manusia di bumi tetap menjadi misteri yang tidak terjawab, di mana bagi mereka yang kekurangan iman, muncul pertanyaan mengenai kesalahan apa yang dilakukan oleh jiwa muda yang tidak berdosa sehingga harus dikirim keluar dari alam roh suci ke dunia penuh duka ini. Sebagai dampaknya, berdasarkan analisis Gulin, Lermontov ditakdirkan untuk mengalami dengan kekuatan yang tidak kalah dahsyatnya sebuah jalan teologis yang mengarah pada keputusasaan akibat ditinggalkan oleh Tuhan yang disebut sebagai bogoostavlennost, serta suasana batin yang condong pada pemberontakan melawan Pencipta atau bogoborchestvo. Menurut penjelasan Gulin, penyebab utama dari suasana hati Lermontov yang semakin berat dan kelam dari tahun ke tahun adalah tuntutannya yang mutlak akan pemenuhan kebahagiaan, keindahan, dan kasih surgawi yang ideal, yang berbenturan keras dengan pengakuannya akan kemustahilan mencapai kesempurnaan tersebut di atas bumi.

Dari benturan eksistensial tersebut, lahirlah pengalaman emosional yang menyiksa mengenai ketidaksempurnaan eksistensi duniawi, perasaan pahit, kebosanan yang mendalam, serta kekecewaan fatal terhadap diri sendiri dan seluruh umat manusia. Karunia besar untuk melihat kebenaran surgawi, menurut deskripsi Gulin, seolah-olah ditawan oleh kekuatan iblis yang gelap yang membisikkan kepada sang penyair bahwa dunia fana ini adalah kerajaan dosa yang mutlak tanpa ada jalan kembali kepada Allah, dan bahwa lagu-lagu bumi yang membosankan akan menemani manusia selamanya tanpa memedulikan pilihan spiritual kita. Penyebab dari kegelapan ini, sebagaimana dinyanyikan oleh Lermontov dalam puisi Duma (1838) dan puisi penuh keputusasaan I skuchno i grustno (1840), menurut argumen yang dituliskan A. V. Gulin merupakan akibat dari upaya keliru sang penyair yang mencari pertemuan dengan surga di dalam nafsu dan gairah pribadinya sendiri. Berdasarkan pandangan Gulin, cinta yang dibahas Lermontov dalam fase tersebut sering kali hanyalah gairah sesaat dan bukan perasaan tinggi yang abadi yang mampu menghubungkan manusia dengan Tuhan, sehingga tanggung jawab atas kegagalan pilihan tersebut akhirnya dilimpahkan kepada Sang Pencipta melalui puisi Blagodarnost (1840) yang bernada ironis dan menantang.

Kondisi penurunan spiritual dan kepasifan generasi masa itu yang digambarkan dalam puisi Duma dan menurut catatan sejarah yang diulas oleh A. V. Gulin, telah mengalami reduksi makna oleh para kritikus sekuler. Sejak abad kesembilan belas di Rusia, berdasarkan tulisan V. G. Belinsky dan A. I. Herzen, berkembang sebuah representasi yang mengklaim Lermontov murni sebagai juru bicara dari lingkaran masyarakat pemikir yang mengalami kekecewaan pasca-kekalahan gerakan Dekabris. Pandangan ini, menurut penegasan Gulin, dipaksakan secara agresif oleh sains sastra resmi sepanjang abad kedua puluh di bawah sistem ateisme negara Soviet, yang mengabaikan problematika spiritual dalam Duma dan mengaitkannya semata-mata dengan reaksi penindasan di era Tsar Nicholas I yang membekukan ruang aktivitas generasi muda. Namun, A. V. Gulin membantah perspektif materialistik tersebut dengan menyatakan bahwa hubungan internal antara trauma Dekabrisme dan penyakit spiritual generasi tersebut memiliki hakikat yang sama sekali berbeda, di mana era Nicholas I sebenarnya berfungsi membatasi kesombongan manusia yang tak terkendali dan mencegah para petualang individualistis bermanifestasi dalam pemberontakan yang merusak jiwa, sembari tetap menjaga jalan tradisional penyembuhan spiritual.

Melangkah pada pembahasan mahakarya prosa Lermontov, yaitu novel Geroy nashego vremeni,kita dapat memusatkan perhatian pada kata pengantar penulis yang menyatakan bahwa tokoh utama, Pechorin, merupakan sebuah potret yang disusun dari sifat-sifat buruk dari seluruh generasi dalam perkembangan penuhnya. Menurut interpretasi saya, pernyataan Lermontov bahwa ia merasa senang dalam menggambar manusia modern tersebut bukan sekadar retorika santai, melainkan awal dari permainan makna yang rumit di dalam novel, di mana kata veselo versi penulis berinteraksi erat dengan kata veselo yang digunakan oleh Pechorin dalam jurnal pribadinya. Berdasarkan analisis tekstual yang dilakukan oleh Gulin, oposisi konseptual antara bosan dan senang (skuchno–veselo) merupakan salah satu struktur paling penting dalam novel tersebut, di mana istilah veselo digunakan oleh Lermontov berulang kali hanya dalam satu arti fungsional, yaitu tidak bosan (ne skuchno). Sebagaimana diamati oleh A. V. Gulin, Pechorin bertindak layaknya seorang anak manja yang membimbing hidupnya hanya berdasarkan dua konsep tersebut, di mana batasan moral antara yang baik dan yang buruk secara tragis telah digantikan oleh kategori subjektif skuchno dan veselo.

Relativisme moral yang memprihatinkan ini tidak hanya melanda Pechorin, melainkan juga menyusup ke dalam suara narator anonim—perwira militer pengembara Kaukasus yang menjadi pencerita dalam kisah Bela dan Maksim Maksimych. Ketika narator tersebut mendengar berita kematian Pechorin, ia justru mengaku sangat gembira karena berita itu memberinya hak legal untuk menerbitkan catatan rahasia tersebut, sebuah kegembiraan egois yang dapat kita nilai sangat aneh dan menunjukkan absennya simpati kemanusiaan yang mendalam. Fenomena ini, menurut argumen yang diajukan oleh salt satu jurnal yang saya baca, memperlihatkan bahwa seluruh dunia dalam novel tersebut seolah-olah terjebak dalam jaring moral yang meragukan di mana segala sesuatu yang kejam atau manipulatif dianggap veselo selama mampu mengusir kebosanan kosmis yang melanda jiwa. Karakter Pechorin yang realistis ini, berdasarkan studi sejarah sastra yang dilakukan oleh V. A. Kotel'nikov, bahkan memperoleh fitur-fitur dari sosok Vampir romantis atau dipenuhi dengan libertinisme penodaan agama yang bernuansa tulisan-tulisan Marquis de Sade, yang membuktikan betapa mendalamnya eksplorasi Lermontov terhadap degradasi moral manusia yang kehilangan jangkar surgawinya.

Meskipun dunia dalam novel tersebut tampak dipenuhi oleh kegelapan dan kejahatan eksistensial, kita dapat menemukan sebuah paradoks agung yang menyelamatkan karya tersebut dari nihilisme mutlak, yaitu melalui faktor transfigurasi estetis yang bersumber dari kesempurnaan pidato puitis dan keindahan bahasa artistik Lermontov. Berdasarkan testimoni historis dari N. V. Gogol, belum pernah ada seorang pun di Rusia yang menulis prosa yang begitu teratur, indah, dan harum, sebuah kualitas kebahasaan yang diistilahkan sebagai keharuman verbal (словесное благоухание). Sesuai dengan catatan sejarah sastra, para penulis besar seperti Leo Tolstoy dan Anton Chekhov bahkan tidak pernah berharap untuk dapat melampaui kemurnian, kejelasan, dan musikalitas yang inheren dalam gaya prosa Lermontov. Harmoni surgawi dari prosa Lermontov ini, menurut konklusi yang ditarik oleh A. V. Gulin dan juga beberapa pengamat sastra rusia menyimpulkan bahwa karyanya, bertindak sebagai ukuran tertinggi dan absolut dari semua hal yang dikatakan oleh sang seniman, yang memancarkan impuls moral yang kuat kepada pembaca melampaui sinisme karakter Pechorin, sehingga pembaca tetap mampu merasakan belas kasihan yang mendalam kepada Bela serta simpati yang tulus kepada Princess Mary.

Dalam tataran kultural yang lebih luas, saya membawa sekali lagi pernyataan dari A. V. Gulin yang menegaskan bahwa dunia Rusia dalam kesadaran kolektifnya telah mengenali Lermontov sebagai putra agungnya dan mencintainya dengan cinta yang mendalam, tidak hanya karena bakatnya yang luar biasa dalam menangkap keindahan Rusia yang sejati, melainkan juga karena kemampuannya yang langka untuk melihat ke dalam jurang gelap eksistensi serta merenungkan kekalahan moral manusia Rusia yang berat. Berdasarkan teori sastra yang dikemukakan oleh V. Yu. Troitskii, keabadian pada dasarnya melekat pada citra puitis Lermontov sebagai suatu kepastian, di mana kemandirian mutlak sang penyair dari tekanan dunia menempatkannya seolah-olah berada di luar waktu historis yang linier. Oleh karena itu, konsep waktu kita yang digunakan dalam judul novel, menurut interpretasi Gulin, tidak terbatas pada dekade 1830-an abad kesembilan belas semata, melainkan merujuk pada rentang waktu besar yang mencakup seluruh perjalanan sejarah manusia dari awal hingga detik terakhirnya sebelum menghadapi keabadian eskatologis.

Sebagai penutup saya ingin menjelaskan bahwa pengalaman spiritual pechorinian yang penuh kekecewaan tersebut pada akhirnya tidak berakhir pada kehancuran iman yang mutlak, melainkan muncul dalam bentuk yang sangat ditransformasikan pada karya-karya lirik terakhir sang penyair sebelum kematiannya menjemput. Pengaruh kreatif dari transfigurasi ini yang dapat kita lihat secara jelas dalam puisi-puisi agung seperti Zaveschanie (1840) dan puisi visioner Son (1841), di mana kekecewaan masa lalu diubah menjadi energi kreatif untuk melahirkan mahakarya yang matang secara rohani. Puncak dari rekonsiliasi estetis dan spiritual ini, berdasarkan evaluasi Gulin, termaktub dalam puisi klasik Rodina (1841), di mana pernyataan Lermontov tentang cintanya yang aneh terhadap tanah air berhasil mengatasi sikap apatis serta keterasingan dari kejayaan masa lalu yang sebelumnya mendominasi puisi Duma. Rusia duniawi dalam bait-bait terakhir Lermontov, menurut kesimpulan teologis yang indah dari A. V. Gulin, digambarkan sedang melakukan perjalanan spiritualnya yang penuh misteri yang melintasi ruang dan waktu menuju Akhir Zaman, di bawah naungan perlindungan malaikat surgawi yang lagunya tetap hidup tanpa kata-kata di dalam lubuk jiwa manusia Rusia.

CONTACT US

Phone Number & Email

Gorkyhartanto@ragabumi.blog

+628871175838

© 2026. All rights reserved.