BAGAIMANA ABSURDITAS DALAM KARYA FRANZ KAFKA MENGUBAH PRESPEKTIF KITA
Memahami Franz kafka
Gorky Hartanto
5/28/20265 min read
Franz Kafka memanglah tokoh sastra yang berpengaruh, tetapi dia juga juga subjek yang sangat relevan dalam studi psikologi kognitif dan eksistensialisme. Menurut pengamatan Albert Camus pada tahun 1955, terdapat sebuah ambiguitas mendasar yang menjadi rahasia utama dari kekuatan tulisan-tulisan Kafka. Albert Camus menyimpulkan dalam evaluasinya bahwa karya Kafka dipenuhi dengan osilasi atau pergerakan abadi antara hal yang natural dan hal yang luar biasa, antara yang individual dan yang universal, antara yang tragis dan yang biasa dalam kehidupan sehari-hari, serta antara yang absurd dan yang logis. Menurut Albert Camus, karakteristik yang saling bertentangan inilah yang ditemukan di sepanjang karya Kafka dan memberikan resonansi serta makna pada tulisannya. Meskipun demikian, berdasarkan penuturan Travis Proulx dan Steven J. Heine dalam penelitian psikologi mereka, harus diakui bahwa tidak semua orang pada akhirnya dapat menemukan makna dalam karya-karya Kafka tersebut. Bagi sebagian besar pembaca, karya Kafka justru dikarakterisasikan sebagai sebuah serangan terhadap makna. Menurut para peneliti, hal ini terjadi karena tulisan-tulisan Kafka secara radikal melanggar asumsi-asumsi fundamental dari bentuk naratif pada umumnya serta mengganggu pandangan dunia eksistensial yang dimiliki oleh pembacanya.
Serangan terhadap makna naratif ini sangat lekat dengan konsep absurditas. Sebagai bentuk pengakuan atas bakat Kafka, Camus secara terbuka menggemakan kemampuan penulis tersebut dalam memunculkan rasa absurd bagi siapa pun yang membacanya. Menurut penjelasan Camus dalam The myth of Sisyphus and other essays., hal yang absurd sejatinya adalah sebuah konfrontasi antara hal yang irasional dengan kerinduan manusia yang liar akan sebuah kejelasan, yang panggilannya terus bergema di dalam hati manusia. Lebih lanjut, beliau juga mengklaim bahwa kerinduan akan kejelasan yang inheren ini—yakni keinginan untuk memiliki asosiasi yang koheren secara internal dan konsisten dengan lingkungan—merupakan hal yang mendasari pembentukan semua kerangka makna manusia, baik itu saat mereka mengorganisasikan observasi ilmiah, ketaatan beragama, maupun sekadar menyusun rencana kegiatan sehari-hari. Berangkat dari pandangan eksistensialis ini, Proulx dan Heine memformulasikan ide bahwa ancaman terhadap makna, apa pun sumber asalnya, akan selalu memotivasi orang untuk mencari makna di tempat lain demi mempertahankan keseimbangan kognitif mereka. Hal ini sejalan dengan apa yang telah dibahas oleh teori-teori awal dari para psikolog dan filsuf eksistensialis, seperti Sigmund Freud pada tahun 1919 dan Camus pada tahun 1955, yang secara khusus menyoroti ancaman makna yang ditimbulkan oleh literatur dan citra surealis atau absurd sebagaimana yang melekat pada karya Kafka.
sumber gambar : Meaning-Maintenance as a Learning Strategy: Predictions for How Expectation Violations Can Influence Classroom Learning Jason P. Martens, University of British Columbia
Dalam konteks psikologi eksperimental modern yang saya dalami melalui banyak jurnal ilmiah, absurditas dalam karya Kafka tidak hanya dibaca sebagai hiburan, melainkan digunakan sebagai alat stimulus untuk menguji reaksi kognitif manusia terhadap hilangnya sebuah pola yang masuk akal. Berdasarkan kerangka teori Meaning-Maintenance Model (MMM), para ahli psikologi meyakini bahwa manusia secara alami merakit representasi mental dari asosiasi-asosiasi yang mereka harapkan, yang berfungsi untuk mengatur keyakinan dan persepsi mereka, serta memberikan perasaan umum bahwa kehidupan mereka masuk akal. Ketika representasi atau ekspektasi yang telah terbangun ini dilanggar—seperti ketika seseorang membaca cerita yang tidak masuk akal—hal itu menciptakan sebuah ancaman pemaknaan yang meresahkan. Untuk membuktikan fenomena kompensasi psikologis ini, salah satu jurnal yang ditulis oleh Proulx dan Heine merancang sebuah eksperimen yang secara langsung merujuk pada pujian Camus terhadap kejeniusan Kafka, dengan sengaja memilih karya literatur Kafka sebagai materi stimulus yang bersifat absurd. Dalam studi yang mereka lakukan, para peneliti menggunakan versi modifikasi dari cerita pendek Kafka tahun 1919 yang aslinya berjudul "The Country Doctor", yang kemudian diubah judulnya menjadi The Country Dentist khusus untuk keperluan eksperimen tersebut (bukan untuk umum).
Penggunaan cerita modifikasi dari tulisan Franz Kafka dalam eksperimen psikologi tersebut dirancang dengan sangat spesifik untuk merusak ekspektasi naratif dan logika pembaca. Menurut pemaparan Proulx dan Heine mengenai isi cerita tersebut, The Country Dentist pada awalnya mengisahkan narasi standar mengenai seorang dokter gigi pedesaan yang berangkat di tengah badai salju untuk membantu seorang anak laki-laki yang sedang sakit gigi. Namun, seiring berjalannya alur cerita, narasi tersebut dirancang sedemikian rupa agar perlahan-lahan menjadi rusak dan akhirnya berhenti secara tiba-tiba setelah menampilkan serangkaian peristiwa yang tidak berkesinambungan secara logis atau non sequiturs. Untuk semakin memperkuat kesan absurd yang mendisorientasi pikiran partisipan, para peneliti juga turut menyertakan serangkaian ilustrasi aneh di dalam teks yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengan alur atau isi cerita tersebut. Menurut para peneliti yang mengamati reaksi partisipan, rusaknya asosiasi yang diharapkan yang disajikan secara gamblang dalam cerita absurd tersebut terbukti bertindak sebagai ancaman makna yang nyata bagi banyak individu yang membacanya.
Sumber gambar : A Kafkaesque Pandemic - Medical Humanities
Dampak dari membaca literatur Kafkaesque yang absurd ini ternyata jauh melampaui sekadar kebingungan secara emosional, hal ini secara langsung dan terukur memengaruhi cara kerja kognitif dasar manusia dalam memproses informasi di sekitarnya. Berdasarkan analisis hasil eksperimen yang dilakukan oleh Proulx dan Heine, kerusakan ekspektasi naratif yang dialami partisipan saat membaca cerita Kafka tersebut memotivasi mereka untuk secara aktif mencari pola-pola asosiasi di lingkungan baru yang tidak ada hubungannya dengan cerita. Setelah membaca karya Kafka, para partisipan diuji dengan tugas implicit-learning menggunakan tata bahasa buatan, di mana mereka harus menyalin susunan huruf yang tampak acak. Menurut para peneliti, paparan terhadap cerita yang absurd ini membuat para partisipan mempersepsikan keberadaan pola yang lebih banyak dalam susunan huruf tersebut dibandingkan dengan kelompok yang membaca cerita normal. Yang lebih menakjubkan, menurut pembuktian statistik eksperimen tersebut, partisipan yang diancam maknanya oleh karya Kafka menunjukkan kemampuan kognitif yang jauh lebih akurat dalam mengidentifikasi pola yang benar-benar ada secara tersembunyi. Dengan kata lain, ketika tulisan Kafka secara efektif menghancurkan struktur logika pembaca, kognisi manusia mengkompensasinya dengan meningkatkan kemampuan kognitif yang bertanggung jawab untuk mempelajari keteraturan statistik di lingkungan baru secara implisit.
Kesimpulannya, eksistensi Franz Kafka melalui karya-karyanya yang ambigu dan absurd tidak hanya memberikan sumbangsih pada kekayaan literatur klasik, tetapi juga menyediakan instrumen krusial bagi penelitian empiris mengenai mekanisme pertahanan makna di dalam otak manusia. Seperti yang diamati secara filosofis oleh Camus dan kemudian dibuktikan secara eksperimental melalui pengujian saintifik oleh Proulx dan Heine, karya Kafka memaksa kognisi manusia untuk secara langsung menghadapi hal yang irasional. Konfrontasi dengan narasi Kafka yang penuh dengan ketidaksinambungan logika ini bertindak sebagai pemicu tajam yang merusak kerangka makna konvensional dari para pembacanya. Kendati demikian, dari kerusakan naratif tersebut, para psikolog berhasil mengungkap sebuah respons adaptif yang luar biasa dari pikiran manusia; ketiadaan pola yang masuk akal dalam cerita Kafka justru memicu peningkatan motivasi dalam pikiran manusia untuk menemukan serta mengabstraksikan pola-pola yang baru di dalam lingkungannya.pada akhirnya saya melihat bahwa tulisan Kafka bertindak lebih dari sekadar cerita fiksi, ia merupakan katalisator psikologis yang dengan sempurna mengungkap kerinduan inheren umat manusia akan kejelasan dan struktur di tengah dunia yang tak masuk akal.
Franz Kafka makan ubi,
jadi metamorphosis fakta sosial atau fiksi?








